Collection

Collection
.

Selasa, 02 Oktober 2012

Rangkuman Kelompok II


Kelompok 11. Dengan personil :

Kewajiban kami sebelum mengikuti mata perkuliahan ini adalah bagaimana kami bisa merangkum bagian-bagian penting yang nantinya akan dipelajari lebih dalam dikelas. Berdasarkan hasil diskusi kelompok kami mengenai “Teori-Teori Belajar Awal” berikut adalah hasil rangkumannya.

TEORI-TEORI BELAJAR AWAL
            Sebagai disiplin ilmu muda, psikologi menghadapi dua pertanyaan utama yaitu: Apa yang seharusnya menjadi fokus studi? Dan, apa yang seharusnya menjadi cakupan disiplin ilmu ini?. Menanggapi kedua pertanyaan utama tersebut, seorang tokoh psikologi B. Watson memunculkan pendekatan behaviorisme. Watson mencatat bahwa fokus pada kesadaran dan proses mental menyebabkan psikologi menemui jalan buntu karena topik-topiknya yang sulit ditangani. Oleh karena itu Watson mengusulkan subjek studi umum “Perilaku” untuk menyatukan semua psikolog.
            Menurut Watson (1913) dengan mempelajari perilaku, psikolog akan mampu memprediksi respons yang ditimbulkan lewat stimulus dan sebaliknya. Ketika tujuan ini tercapai psikologi akan menjadi ilmu eksperimental objektif.
            Dalam mempelajari perilaku ada dua pendekatan awal yang perlu diketahui, yaitu penngkondisian klasik dan koneksionisme. Selain tentang dua pendekatan awal, behaviorisme juga mengandung tiga asumsi dasar tentang belajar yaitu :
1.      Yang menjadi fokus studi seharusnya adalah perilaku yang dapat diamati, bukan menjadi mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian.
2.      Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respons spesifik).
3.      Proses belajar adalah perubahan behavioral. Suatu respons khusus terasosiasikan dengan kejadian dari suatu stimuli khusus, dan terjadi dalam kehadiran stimulus tersebut.
Berikut akan dibahas mengenai beberapa tokoh yang terkenal dengan pendekatan pengkondisian klasik dan koneksionismenya.
Pavlov dan Pengkondisian Klasik atau Refleks
Kisah riset Pavlov memperlihatkan seorang ilmuwan kesepian yang secara tidak sengaja menemukan cara untuk mengontrol perilaku sederhana saat meneliti reflex keluarnya air liur anjing. Pengkondisian refleks dalam eksperimen Pavlov dan Bekheterev merefleksikan asumsi ini dan mendemonstrasikan bahwa relasi natural antara stimulus dan reflex yang terasosiasikan dapat diubah. Riset ini memuat asumsi bahwa sebab-sebab perilaku yang kompleks akan dapat diungkap.
Melatih refleks untuk merespons stimulus baru membutuhkan pemasangan berulang kali antara stimulus tersebut dan stimulus yang secara alamiah memunculkan refleks. Sebagai hasilnya, stimulus yang dikondisikan (CS) akan menimbulkan respons yang dikondisikan (CR). Ini disebut pengkondisian klasik.

Behaviorisme John Watson
Watson memberi kontribusi pada perkembangan psikologi melalui tiga cara, yaitu:
1.      Watson mengorganisasikan temuan riset pengkondisian ke dalam perspektif baru, yakni behaviorisme, dan membujuk psikolog lain untuk memahami arti penting dari pendapatnya.
2.      Konstribusi asli dari karyanya adalah memperluas metode pengkondisian klasik ke respons emosional pada manusia.
3.      Karyanya meningkatkan status belajar sebagai topik dalam psikologi.
Selain mengajak orang lain untuk mendukung pendapat behaviorisme yang didasarkan pada pengkondisian klasik, Watson juga mengembangkan teori emosi behavioral. Dia berpendapat bahwa kehidupan emosi orang dewasa bersumber dari pengkondisian reaksi emosional insting (cinta, marah, takut) terhadap berbagai macam objek dan peristiwa.

Koneksionisme Edward Thorndike
Koneksionisme Edward Thorndike berbeda dengan pengkondisian klasik dalam dua hal. Pertama, Thorndike tertarik dengan proses mental, dan dia pertama-tama mendesain eksperimennya untuk meneliti proses pemikiran binatang. Kedua, alih-alih meriset reaksi refleks atau tidak sukarela, Thorndike meneliti perilaku mandiri atau sukarela.
Riset Thorndike terhadap hewan adalah meneliti perilaku mandiri hewan, bukan reaksi refleksnya. Setelah melihat makin cepatnya hewan berhasil mencapai makanan, dia menyimpulkan bahwa respons yang tepat “tertanam” melalui asosiasi dengan akses ke makanan, yakni suatu keadaan yang memuaskan (hukum efek).

PSIKOLOGI GESTALT
Fokus riset dalam psikologi gestalt ini yaitu persepsi dalam belajar. Psikologi gestalt ini juga berfugsi sebagai penentangan behaviorisme di pertangahan abad ke 20. Ada 4 asumsi dasar dalam psikologi gestalt yaitu
1.      berbeda dengan behavioris dalam teoretisi gestalt berpendapat bahwa yang harus di pelajari adalah perilaku “ molar “ bukan perilaku “ molecular
2.       organisme merespon “ keseluruhan sensoris yang “ tersegregasi “ atau gestalten
3.       lingkungan geografis yang hadir sebagaimana adanya, berbeda dengan lingkungan behavioral yang merupakan cara sesuatu muncul.
4.      Organisme lingkungan sensoris adalah interaksi dinamis dari kekuatan-kekuatan didalam struktur yang mempengaruhi persepsi individu.
Asumsi kedua dan ketiga menyatakan bahwa individu memahami aspek dari lingkungan sebagai organisasi stimuli dan merespons berdasarkan persepsi tersebut. Teoretisi gestalt berpendapat bahwa organisasi atau susunan dari stimuli di lingkungan itu sendiri adalah sebuah proses dimana proses ini akan mempengaruhi persepsi individu (asumsi ke 4).
Organism merespon keseluruhan ketimbang stimuli spesfik organisasi stimuli mempengaruhi persepsi,dan indevidu membangun persepsi ketimbang hanya menerima informasi secara pasif.
Karakteristik tampilan stimulus yang mempengaruhi persepsi adalah komprehensivitas dan stabilitas gambaran dalam hukum pragnanz dan karakteristik lain yang memberi kontribusi pada kelengkapan suatu struktur dan pola.
Psikologi gestalt memberi kontribusi dalam beberapa konsep untuk memahami pemecahan masalah di mana konsep yang paling terkenal adalah konsep pemahaman atau wawasan.kontri busi lain dari psikologi gestalt adalah pembedaan oleh Wertheimer atas belajar arbitrer dan belajar bermakna dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pemecahan masalah .
Hal-hal yang membatasi itu antara lain adalah kekakuhan fungsional yaitu ketidak mampuan untuk melihat elemen-elemen dari masalah dengan cara baru dan kekakuhan dalam memecahkan masalah .

PERBANDINGAN ANTARA BEHAVIORISME DAN TEORI GESTALT
Behaviorisme dan teori gestalt berbeda pandangan  filosofisnya tentang belajar dalam hal identifikasi prinsip yang dapat di uji,pengandaan dalam observasi untuk verifikasi, dan aplikasi prinsip ke situs nyata. Kedua teori ini juga mengilustrasikan perkembangan pengetahuan melalui pengukuran yang akurat dan riset dan kondisi yang terkontrol.
Adapun aplikasi ke pendidikannya yaitu psikologi behaviorisme dan gestalt  mendasarkan suatu risetnya pada suatu asumsi yang berbeda mengenai sifat dan  belajar fokus dalam studinya.
Behaviorisme juga mendefenisikan belajar sebagai perubahan perilaku dan mengidentifikasikan suatu stimuli dan respon spesifik sebagai fokus dalam risetnya dan sebaliknya psikologi gestalt berpendapat bahwa seseorang merespon suatu stimuli yang terorganisasi dan persepsi perorangan adaah suatu fakto yang sangat penting untuk memecahkan suatu masalah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar